

Sektor Bus
Sekilas, layanan bus di Bandung Raya terlihat baik karena kita punya banyak pilihan. Tapi, sebetulnya, semua layanan itu tidak tidak terintegrasi satu sama lain.
Saat ini ada beberapa layanan yang berjalan paralel:
-
Trans Metro Bandung (TMB), dikelola Pemerintah Kota Bandung
-
DAMRI, di bawah regulasi Badan Pengaturan BUMN
-
Metro Jabar Trans (MJT), dikelola Pemerintah Provinsi Jawa Barat
Karena mereka semua terpisah-pisah, akibatnya:
-
Warga harus membeli tiket bus yang berbeda dari berbagai penyedia
-
Warga tidak mendapatkan fasilitas yang layak dan ramah disabilitas di tiap halte karena tidak ada standar utama
-
Perpindahan penumpang saat bepergian tidak efisien karena lokasi halte antar koridor tidak sinkron
-
Warga harus memantau berbagai macam rute dan jadwal dari penyedia yang berbeda
Kalau berbagai masalah ini belum diselesaikan, akan sulit untuk bisa mengandalkan transportasi umum bus sebagai moda transportasi sehari-hari, karena perjalanan masih terasa tidak praktis, kurang nyaman, dan memakan waktu lebih lama.
-
Solusi jangka panjangnya bukan sekadar tambah armada, tapi memperbaiki tata kelola. Langkah utama yang perlu didorong adalah:
-
Penerapan sistem Bus Rapid Transit (BRT) Bandung Raya sebagai infrastruktur integrasi layanan bus (dieksekusi oleh Kementrian Perhubungan dan nantinya dikelola Pemerintah Provinsi Jawa Barat)
-
Pembentukan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) khusus pengelola transportasi umum Bandung Raya sebagai otoritas tunggal
Kalau ini dapat diwujudkan, akan lebih memungkinkan untuk mendorong integrasi layanan yang menyeluruh seperti:
-
Integrasi sistem tiket dan tarif
-
Standarisasi halte dan informasi rute untuk penumpang
-
Penyelarasan lokasi halte antar koridor
-
Pembangunan sistem BRT Bandung Raya mulai berjalan dan menjadi langkah penting sebagai tulang punggung integrasi layanan bus. Namun, sejauh ini, perkembangan tersebut masih berfokus pada pembangunan fisik dan belum sepenuhnya diikuti oleh aturan birokrasi yang jelas sekaligus otoritas tunggal yang efektif berjalan.
Beberapa langkah yang sudah berjalan:
-
Koridor utama BRT sedang dalam proses lelang konstruksi
-
Depo BRT Leuwipanjang sedang dalam tahap konstruksi
-
Halte BRT off-corridor mulai dibangun
Artinya, meskipun infrastruktur sistem sudah mulai dibangun melalui BRT, koneksi antar layanan yang menentukan kemudahan perjalanan bagi warga Bandung masih menjadi pekerjaan besar.

Foto oleh Naufal Farras. CC-BY-SA 4.0
Sektor Angkot
Angkot masih beroperasi dengan sistem setoran yang mendorong sopir mengejar penumpang, bukan kualitas layanan. Akibatnya, warga tidak dapat bepergian dengan efektif, nyaman, dan aman dengan angkot karena praktik seperti ngetem terlalu lama, getok tarif, berhenti sembarangan, potong rute, dan saling berebut penumpang masih terjadi.
Selain itu, banyak armada tidak terawat, jam operasional tidak pasti, minim standar pelayanan, dan belum ramah bagi lansia maupun penyandang disabilitas.
Masalah utamanya bukanlah perilaku sopir, tapi model tata kelolanya.
Solusi yang bisa didorong adalah penerapan sistem Buy The Service (BTS), operator dibayar berdasarkan kilometer layanan, dan sopir digaji tetap.
Dengan skema ini, fokus bergeser dari "kejar setoran" menjadi "layani penumpang".
Selain itu, angkot perlu diintegrasikan sebagai feeder resmi ke sistem bus dan kereta agar menjadi bagian dari jaringan transportasi publik yang utuh.
Skema Buy-the-service sudah mulai diterapkan dan direncanakan untuk beberapa layanan transportasi umum, contohnya:
-
Sebagian angkot sudah mulai dikontrak untuk menjadi feeder layanan Metro Jabar Trans (MJT), sejauh ini ada 2 rute feeder MJT yang beroperasi.
-
Sebagian angkot juga direncanakan untuk diintegrasikan dengan sistem Bus Rapid Transit (BRT) sebagai feeder.
Namun, inisiatif ini masih terpisah-pisah dan belum menyeluruh sehingga perlu dorongan lebih untuk menerapkan skema Buy-the-service di berbagai layanan transportasi umum dengan jangkauan trayek yang lebih luas
-

Foto oleh Faiz Hilmi Eka Saputra. CC-BY-SA 4.0
Sektor Kereta
Warga Bandung Raya belum bisa mengandalkan kereta komuter untuk mobilitas sehari-hari karena jangkauan terbatas, waktu tempuh lebih lama, dan belum didukung fasilitas memadai.
Beberapa masalah utama yang masih terjadi:
-
Sarana tua dan layanan jarang. Kereta masih ditarik lokomotif dengan rangkaian lama (sebagian dari tahun 1960-an) sehingga frekuensi rendah dan jarak antar kereta bisa lebih dari 1 jam.
-
Jaringan terbatas. Layanan hanya aktif di koridor utama Padalarang - Bandung - Cicalengka. Padahal ada banyak jalur potensial yang saat ini tidak aktif, seperti:
-
Rancaekek - Tanjungsari
-
Bandung - Soreang - Ciwidey
-
Cipatat - Padalarang
-
-
Persimpangan kereta dan jalan raya masih banyak, sehingga membatasi peningkatan frekuensi kereta.
-
Akses stasiun tidak inklusif. Di Stasiun Bandung dan Kiaracondong:
-
Penumpang kereta komuter hanya boleh masuk lewat pintu selatan.
-
Penumpang kereta antarkota bisa masuk dari semua pintu.
-
-
Fasilitas stasiun rusak. Lift dan eskalator yang dibangun pemerintah sudah mati hampir 2 tahun dan belum diperbaiki, sehingga akses utama hanya tangga dan ramp yang licin, curam, sekaligus tidak ramah bagi difabel atau lansia.
-
Ada beberapa langkah yang bisa membuat kereta komuter Bandung Raya jauh lebih baik:
-
Elektrifikasi jalur Padalarang - Cicalengka supaya layanan bisa langsung menggunakan Kereta Rel Listrik (KRL) yang lebih cepat, sering, dan andal.
-
Reaktivasi jalur nonaktif. Manghidupkan kembali jalur:
-
Rancaekek - Tanjungsari
-
Bandung - Soreang - Ciwidey
-
Cipatat - Padalarang
-
-
Hapus permisahan akses penumpang di stasiun. Penumpang kereta komuter harus bisa masuk dari semua akses stasiun, sama seperti penumpang kereta antarkota.
-
Membangun flyover, underpass, atau jalur layang, terutama di koridor padat seperti Bandung - Kiaracondong untuk mengurangi persimpangan langsung.
-
Perbaiki dan sesuaikan fasilitas untuk angkutan harian. Kereta komuter seharusnya diprioritaskan untuk mobilitas warga setiap hari, bukan sekadar proyek wisata atau atraksi sesaat.
-
Saat ini belum ada perkembangan signifikan. Hingga sekarang:
-
Belum ada proyek elektrifikasi berjalan
-
Belum ada reaktivasi jalur baru
-
Masalah fasilitas stasiun seperti lift dan eskalator rusak juga belum diperbaiki
Artinya perbaikan layanan kereta komuter masih membutuhkan dorongan yang lebih kuat.
-


















